Jakarta, Beritametropolitan.id – Alhamdulillah, kita telah berada di Bulan Suci Ramadhan tahun 2026 M / 1447 H. Bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dan kita umat Islam diwajibkan untuk berpuasa sebagaimana firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)
Ketua Umum Pengurus Besar Forum Ulama dan Aktivis Islam (PB-FORMULA), Tuan Guru Drs. Dedi Hermanto, menjelaskan bahwa puasa merupakan wujud nyata cinta kasih Allah kepada hamba-Nya.
Menurutnya, untuk memahami mengapa puasa adalah bentuk kasih sayang Allah, manusia perlu terlebih dahulu menyadari kedudukannya sebagai makhluk yang dimuliakan.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
(Q.S. Al-Isra’ [17]: 70)
Manusia memiliki akal yang sempurna, sehingga derajatnya lebih tinggi dari hewan. Namun demikian, akal manusia tidak serta-merta mampu membedakan kebaikan dan keburukan tanpa bimbingan wahyu. Akal dapat menjadi alat untuk taat, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk bermaksiat, tergantung bagaimana hawa nafsu mengarahkannya.
Sebagaimana firman Allah SWT:
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
(Q.S. Asy-Syams [91]: 8)
Seseorang yang ingin menjadi taat, sholeh, bahkan wali Allah, tetap memiliki hawa nafsu yang harus dikendalikan. Begitu pula orang yang berbuat maksiat, korupsi, dan kejahatan, sering kali justru memiliki kecerdasan, namun akalnya digunakan untuk mengikuti hawa nafsu.
Karena itu, walaupun manusia lebih mulia dari binatang karena akalnya, manusia masih berada di bawah malaikat. Malaikat tidak diberi hawa nafsu dan selalu taat kepada Allah.
“Allah ingin menaikkan derajat manusia agar mendekati derajat malaikat, yakni menjadi hamba yang selalu taat dan dekat dengan-Nya. Caranya adalah dengan mengendalikan hawa nafsu,” jelas Tuan Guru Dedi Hermanto.
Di sinilah puasa menjadi bukti cinta Allah. Dengan rasa kasih dan sayang-Nya, Allah mewajibkan hamba-Nya berpuasa agar tidak terhalang oleh nafsu dunia dan segala tipu dayanya.
Sebagaimana firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(Q.S. Al-Munafiqun [63]: 9)
Sebaliknya, apabila manusia hanya mengikuti hawa nafsu, maka derajatnya bisa lebih rendah dan lebih sesat dari binatang. Dalam Surah Al-A’raf ayat 179 disebutkan:
أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.”
Melalui ibadah puasa, manusia dilatih untuk menahan diri, mengendalikan syahwat, dan memprioritaskan ketaatan kepada Allah. Inilah bentuk pendidikan ilahi yang penuh kasih sayang. Allah tidak ingin hamba-Nya terjerumus dalam kehinaan, tetapi ingin mengangkat derajatnya menjadi pribadi yang bertakwa.
Dengan demikian, puasa bukanlah sekadar kewajiban, melainkan bukti cinta Allah kepada hamba-Nya—agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga diri dari tipu daya dunia, dan meraih derajat mulia di sisi-Nya.
{Nurman-Pemimpin Redaksi-BM}
