Djamaludin Malik: Sang Raja Minang yang Menjadi Bapak Industri Film Indonesia

Berita37 Dilihat

Jakarta, Beritametropolitan.id – Jika Usmar Ismail dikenal sebagai wajah estetika film Indonesia, maka Djamaludin Malik adalah mesin penggeraknya. Sebagai sosok “Dwitunggal” perfilman tanah air, Djamaludin tidak hanya memproduksi gambar bergerak, tetapi ia adalah orang yang membangun fondasi industri perfilman nasional dari nol hingga diakui dunia.

 

Dari Pegawai Pelayaran Menjadi Konglomerat, Lahir di Padang pada 13 Februari 1917, Djamaludin mewarisi darah bangsawan dari keturunan Raja Pagaruyung. Meski mengawali karier sebagai pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij, insting bisnisnya yang tajam segera membawanya menjadi pengusaha besar melalui Djamaludin Malik Concern.

 

Gurita bisnisnya merambah dari tekstil hingga perkapalan, namun kecintaannya pada seni membawanya terjun ke dunia sandiwara. Pada masa revolusi, ia mendirikan kelompok sandiwara Bintang Timur untuk menghibur para pejuang kemerdekaan, yang kemudian bertransformasi menjadi Persari (Perseroan Artis Indonesia).

 

Membangun Kejayaan Persari, Djamaludin bukan sekadar produser; ia adalah pelopor kesejahteraan insan film. Di era 1950-an, ia sudah memfasilitasi artis dan sutradaranya dengan mobil Chevrolet dan rumah di kawasan elit Kebayoran Baru.

 

Beberapa terobosan monumental yang ia lakukan antara lain:

 

Produksi Film Berwarna: Melalui film Rodrigo de Villa (1952), ia bekerja sama dengan Filipina untuk menghadirkan teknologi warna di sinema Indonesia.

 

Gagas Festival Film Indonesia (FFI): Pada tahun 1955, ia memelopori sekaligus membiayai penuh penyelenggaraan FFI pertama dalam sejarah.

 

Diplomasi Internasional: Membawa Indonesia bergabung dengan Federasi Produser Film se-Asia untuk mengangkat martabat film nasional di mata dunia.

 

Tak hanya di studio film, Djamaludin juga merupakan pemain kunci di panggung politik. Ia mendirikan Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) bersama Usmar Ismail dan Asrul Sani sebagai respons atas dominasi Lekra yang disokong PKI kala itu.

 

Perjalanannya sebagai politisi Partai Nahdlatul Ulama (NU) sempat membawanya ke balik jeruji besi atas tuduhan simpati terhadap PRRI. Namun, dedikasinya tak goyah hingga ia menjabat sebagai anggota DPRGR/MPRS dan Ketua III Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

 

Hingga tahun 1966, Djamaludin telah memproduksi 59 judul film. Pengabdiannya terhenti ketika ia menderita penyakit komplikasi yang memaksanya menjalani perawatan di Muenchen, Jerman Barat. Pada 8 Juni 1970, sang “Bapak Industri Film” menghembuskan napas terakhirnya di sana.

 

Jasadnya dipulangkan ke tanah air dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, bersampingan dengan para tokoh bangsa lainnya. Atas jasa-jasanya, negara menganugerahinya gelar Bintang Mahaputra Adipradana II pada tahun 1973.

 

Kini, warisan seni Djamaludin diteruskan oleh keturunannya, termasuk diva dangdut Camelia Malik, serta istrinya Elly Yunara yang sempat melanjutkan tongkat estafet produksi film nasional.

#DjamaludinMalik #BapakIndustriFilm #PeloporFFI #TokohPersari #LegendaSinema #PahlawanBudaya #DwitunggalFilmIndonesia

 

{Redaksi-BM}