*Haidar Alwi: Penghentian Project Freedom Membuktikan Arab Saudi Tidak Lagi Sepenuhnya Mengikuti Amerika Serikat.*

Berita62 Dilihat

Jakarta, Beritametropolitan.id – Dunia kembali diguncang ketegangan geopolitik setelah operasi Project Freedom yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak dihentikan hanya sekitar 36 jam setelah diumumkan. Operasi yang diklaim sebagai langkah membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz itu justru memunculkan krisis diplomatik baru antara Amerika Serikat dan sejumlah negara Teluk, terutama Arab Saudi.

Laporan berbagai media internasional menyebut bahwa Arab Saudi menangguhkan izin penggunaan pangkalan militer dan wilayah udaranya bagi operasi Amerika Serikat. Pangkalan Udara Prince Sultan di tenggara Riyadh disebut tidak diizinkan digunakan untuk mendukung operasi tersebut. Situasi menjadi semakin menarik karena penghentian operasi terjadi setelah komunikasi langsung antara Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dikabarkan gagal meredakan ketegangan yang muncul.

Di saat yang sama, Oman mengaku bahwa Amerika Serikat mengumumkan operasi tersebut terlebih dahulu sebelum melakukan koordinasi diplomatik penuh dengan negara-negara kawasan. Qatar juga disebut baru mendapatkan komunikasi setelah operasi berjalan. Sementara Pakistan mulai aktif mendorong jalur mediasi antara Iran dan Amerika Serikat guna mencegah konflik regional yang lebih luas.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru geopolitik internasional. Ancaman global hari ini tidak lagi hanya berupa perang terbuka, tetapi telah berkembang menjadi perebutan pengaruh terhadap energi, wilayah udara, jalur pelayaran, rantai logistik, data strategis, hingga stabilitas ekonomi dunia. Selat Hormuz kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu chokepoint paling penting di planet ini, yaitu jalur sempit yang menentukan denyut distribusi energi global.

Sekitar 20 juta barel minyak dunia per hari atau hampir seperlima kebutuhan energi global melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi penghubung utama distribusi energi dari Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan kawasan Teluk menuju China, Jepang, India, Korea Selatan, hingga Eropa. Ketika kawasan itu terganggu, maka harga energi global, rantai perdagangan internasional, biaya logistik, inflasi, hingga stabilitas ekonomi dunia ikut bergetar.

Di tengah meningkatnya turbulensi strategis global tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa penghentian Project Freedom telah memperlihatkan perubahan besar dalam hubungan antara Amerika Serikat, Arab Saudi, Iran, dan negara-negara Teluk lainnya.

Menurut Haidar Alwi, dunia saat ini sedang menyaksikan perlahan memudarnya pola lama dominasi tunggal Amerika Serikat di Timur Tengah.

*”Amerika Serikat mungkin masih memiliki kapal induk, pangkalan militer, dan teknologi tempur terbesar di dunia. Tetapi Amerika Serikat tidak lagi memiliki kepatuhan penuh dari Timur Tengah. Ketika Arab Saudi mulai berhitung ulang terhadap kepentingannya sendiri, Oman memilih jalur diplomasi, Qatar bergerak lebih hati-hati, dan Iran tetap mampu mempertahankan daya tekan strategisnya di Selat Hormuz, maka dunia sedang menyaksikan erosi hegemoni strategis Amerika Serikat di kawasan. Erosi hegemoni strategis adalah kondisi ketika pengaruh sebuah negara besar mulai melemah bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena kemampuan mengendalikan sekutu dan arah kawasan tidak lagi sekuat masa lalu,”* tegas Haidar Alwi.

Menurut Haidar Alwi, dunia mungkin sedang menyaksikan awal berakhirnya era ketika Amerika Serikat dapat mengatur arah Timur Tengah tanpa harus mempertimbangkan ulang kepentingan negara-negara kawasan itu sendiri. Dari sinilah terlihat bahwa krisis Hormuz hari ini bukan hanya tentang Iran dan Amerika Serikat, tetapi tentang perubahan arah keseimbangan dunia yang dampaknya dapat menjalar hingga Asia, Eropa, bahkan Indonesia.

*Arab Saudi dan Amerika Serikat Sedang Menghadapi Retakan Besar Geopolitik Timur Tengah.*

Selama puluhan tahun, hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi dikenal sebagai salah satu poros terkuat dalam geopolitik Timur Tengah. Kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan berbagai negara Teluk menjadi simbol dominasi geopolitik Barat terhadap jalur energi dunia.

Namun situasi hari ini mulai menunjukkan perubahan mendasar. Pengumuman operasi militer melalui platform Truth Social milik Donald Trump sebelum koordinasi penuh dengan Oman, Qatar, dan sejumlah negara kawasan memperlihatkan bagaimana pola lama unilateralisme Amerika Serikat masih terus dipertahankan di Timur Tengah. Unilateralisme adalah pendekatan ketika sebuah negara mengambil keputusan strategis secara sepihak tanpa membangun kesepahaman penuh dengan negara-negara lain yang terdampak langsung.

Menurut Haidar Alwi, pola seperti itu mulai menimbulkan resistensi baru di kawasan Teluk. Negara-negara Timur Tengah hari ini tidak lagi sepenuhnya nyaman dijadikan sekadar instrumen kepentingan geopolitik Washington.

Arab Saudi misalnya, saat ini sedang fokus menjaga stabilitas ekonomi dan investasi besar melalui proyek Vision 2030. Riyadh memahami bahwa perang besar melawan Iran berpotensi menghancurkan stabilitas kawasan dan mengguncang masa depan ekonomi Saudi sendiri.

Namun dalam pandangan Haidar Alwi, situasi tersebut sekaligus memperlihatkan dilema besar dunia Arab modern, yaitu memiliki kekayaan energi dan pengaruh ekonomi besar, tetapi terlalu lama menggantungkan stabilitas keamanannya kepada kekuatan Barat.

*”Dunia Arab hari ini kaya energi, tetapi miskin kemandirian geopolitik. Banyak negara Muslim memiliki minyak, jalur perdagangan strategis, dan kekayaan besar, tetapi terlalu lama menyerahkan arsitektur keamanan kawasannya kepada Amerika Serikat dan kekuatan Barat. Akibatnya ketika kepentingan Washington berubah, negara-negara kawasan ikut dipaksa menanggung risiko geopolitik yang sebenarnya bukan sepenuhnya kepentingan mereka sendiri. Ketika negara-negara Muslim lebih sibuk menjaga stabilitas investasi dibanding membangun solidaritas strategis kawasan, maka dunia Islam perlahan kehilangan posisi tawarnya sendiri di hadapan kekuatan global,”* jelas Haidar Alwi.

Qatar mulai bergerak lebih hati-hati demi menjaga keseimbangan hubungan regionalnya, sementara Oman tetap mempertahankan jalur diplomasi dengan Iran. Pakistan bahkan mulai tampil sebagai mediator kawasan untuk mendorong komunikasi damai antara Tehran dan Washington.

Menurut Haidar Alwi, fakta bahwa operasi Amerika Serikat dapat tersendat bahkan sebelum konflik besar benar-benar terjadi menunjukkan bahwa kekuatan geopolitik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kapal induk, pangkalan militer, atau teknologi tempur.

*”Geopolitik modern tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan militer, tetapi oleh kemampuan membangun legitimasi kawasan. Amerika Serikat mungkin masih memiliki CENTCOM dan armada perang terbesar di dunia, tetapi ketika sekutu mulai menjaga jarak dan negara-negara kawasan mulai membaca kepentingannya sendiri, maka dominasi lama perlahan mulai retak dari dalam,”* ujar Haidar Alwi.

Dalam pandangan Haidar Alwi, ketegangan ini juga menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mulai menyadari bahaya ketergantungan keamanan eksternal, yaitu kondisi ketika stabilitas nasional terlalu lama bergantung pada perlindungan negara asing. Ketergantungan seperti itu dalam jangka panjang dapat membuat sebuah negara kehilangan keberanian menentukan arah geopolitiknya sendiri.

*Iran, Israel, dan Perebutan Arteri Energi Global Dunia.*

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Kawasan tersebut merupakan salah satu urat nadi utama ekonomi global. Gangguan kecil di wilayah itu dapat memengaruhi harga minyak dunia, biaya logistik internasional, rantai pasok industri, hingga stabilitas ekonomi berbagai negara.

China, Jepang, India, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi dari kawasan Teluk. Ketika ketegangan meningkat antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, maka dunia internasional langsung bereaksi karena ancamannya bukan hanya perang regional, tetapi gangguan terhadap sistem ekonomi global.

Menurut Haidar Alwi, tekanan terhadap Iran selama ini tidak dapat dipisahkan dari kepentingan strategis Amerika Serikat dan Israel dalam mempertahankan dominasi geopolitik Barat di Timur Tengah. Iran dipandang sebagai salah satu kekuatan regional yang paling keras menolak dominasi Barat dan paling konsisten mempertahankan posisi independennya di kawasan.

Karena itu, konflik terhadap Iran sering kali bukan hanya berkaitan dengan isu keamanan semata, tetapi juga berkaitan dengan perebutan pengaruh dan pengendalian arteri energi dunia.

*”Iran tidak perlu menembakkan rudal untuk membuat dunia panik. Cukup dengan terganggunya Selat Hormuz, maka harga energi global, pasar internasional, dan industri dunia langsung bergetar. Inilah yang membuat Iran tetap diperhitungkan meskipun menghadapi embargo, tekanan ekonomi, dan isolasi politik bertahun-tahun dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya,”* tegas Haidar Alwi.

Menurut Haidar Alwi, abad modern hari ini bukan lagi hanya perang memperebutkan wilayah, tetapi perang mengendalikan arteri energi global, yaitu jalur distribusi energi yang menentukan denyut ekonomi dunia.

*”Barat memahami bahwa gangguan kecil di Selat Hormuz saja dapat mengguncang industri China, Jepang, India, Korea Selatan, hingga memengaruhi stabilitas ekonomi Eropa dan negara-negara berkembang. Karena itu perebutan pengaruh di Timur Tengah tidak pernah benar-benar hanya soal demokrasi atau keamanan, tetapi juga tentang siapa yang mengendalikan jalur energi dunia,”* ujar Haidar Alwi.

Namun Haidar Alwi juga mengkritik keras lemahnya persatuan strategis dunia Islam. Banyak negara Muslim memiliki sumber energi besar, tetapi arah keamanan dan geopolitiknya masih terlalu bergantung pada kekuatan eksternal.

Menurut Haidar Alwi, kondisi tersebut menciptakan apa yang ia sebut sebagai kolonialisme energi modern, yaitu situasi ketika negara-negara pemilik sumber daya besar tetap tidak memiliki kemandirian penuh dalam menentukan arah keamanan dan geopolitiknya sendiri.

*”Dunia Islam memiliki minyak, gas, jalur perdagangan strategis, dan populasi besar. Tetapi selama keamanan dan arah geopolitiknya masih terlalu bergantung pada kekuatan luar, maka dunia Islam akan terus sulit membangun kemandirian peradabannya sendiri. Ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi persoalan martabat geopolitik bangsa-bangsa Muslim,”* jelas Haidar Alwi.

Menurut Haidar Alwi, Iran membuktikan bahwa tekanan ekonomi, embargo, dan isolasi politik tidak selalu mampu menghancurkan daya tahan sebuah bangsa ketika negara tersebut masih memiliki keberanian mempertahankan kepentingan nasional dan kemandirian geopolitiknya sendiri.

*Indonesia Tidak Boleh Menjadi Penonton dalam Perebutan Energi Global.*

Menurut Haidar Alwi, Indonesia harus membaca krisis Selat Hormuz sebagai alarm strategis yang sangat serius. Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak geopolitik global.

Ketika konflik meningkat antara Amerika Serikat, Iran, Israel, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk lainnya, maka dampaknya dapat langsung terasa terhadap harga minyak, subsidi energi, APBN, inflasi pangan, hingga biaya transportasi nasional.

Gangguan kecil di Selat Hormuz saja dapat memengaruhi rantai industri China, Jepang, India, dan Korea Selatan yang merupakan mitra perdagangan penting Indonesia. Ketika ekonomi negara-negara tersebut terganggu, maka tekanan ekonomi global juga akan ikut memengaruhi stabilitas nasional Indonesia.

Karena itu, Haidar Alwi menilai Indonesia harus mulai membangun kedaulatan energi nasional, yaitu kemampuan negara menjaga stabilitas energi tanpa terlalu bergantung pada dinamika konflik internasional.

Menurut Haidar Alwi, langkah tersebut harus dilakukan melalui penguatan kilang nasional, hilirisasi energi, pengembangan biodiesel, energi alternatif, peningkatan cadangan strategis energi, serta diplomasi luar negeri bebas aktif yang tidak terseret terlalu jauh ke dalam blok geopolitik tertentu.

Dalam dunia modern, negara yang tidak menguasai energinya sendiri pada akhirnya akan hidup di bawah bayang-bayang keputusan negara lain. Karena itu Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar dan penonton geopolitik internasional. Kita harus membangun ketahanan energi, memperkuat industri nasional, dan menjaga kemandirian strategis bangsa sebelum badai geopolitik berikutnya datang lebih besar.

Menurut Haidar Alwi, pelajaran terbesar dari krisis Hormuz hari ini adalah bahwa dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Perebutan pengaruh tidak lagi hanya terjadi melalui perang terbuka, tetapi juga melalui energi, data digital, teknologi, rantai logistik, dan penguasaan jalur strategis dunia.

*”Dunia mungkin sedang menyaksikan perpindahan pusat gravitasi geopolitik global dari dominasi militer menuju perebutan energi, jalur perdagangan, dan kemandirian strategis bangsa-bangsa. Pada akhirnya, bangsa yang mampu bertahan bukan hanya bangsa yang memiliki kekuatan militer besar, tetapi bangsa yang mampu menjaga kemandirian energi, stabilitas ekonomi, dan arah geopolitiknya sendiri,”* pungkas Haidar Alwi.

 

{Redaksi-BM}