Jenderal Bintang 2 Wanita Pertama di ASEAN! Inilah Sosok Christina Maria Rantetana, Putri Toraja yang Bikin Dunia Terpukau

Berita77 Dilihat

Jakarta, Beritametropolitan.id – Nama Laksamana Muda (Laksda) TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana, S.K.M., M.P.H., mungkin sudah tiada, namun jejak langkahnya tetap menjadi mercusuar bagi perempuan di seluruh Asia Tenggara. Lahir di pelosok Tana Toraja, Sulawesi Selatan, ia berhasil menembus batas-batas kemustahilan dan mencatatkan namanya sebagai jenderal bintang dua wanita pertama di TNI Angkatan Laut sekaligus di kawasan ASEAN.

 

Dunia militer yang identik dengan kekuatan maskulin berhasil ia taklukkan dengan kecerdasan, keteguhan hati, dan integritas yang luar biasa.

 

Melampaui Samudra: Penakluk Pendidikan Internasional

Christina Maria Rantetana bukan sekadar “pemanis” di struktur militer. Ia adalah otak di balik banyak kemajuan kesehatan di Angkatan Laut. Memulai karier dari diploma perawatan umum pada 1979, ia bertransformasi menjadi intelektual militer yang disegani.

 

Ia mencetak sejarah sebagai anggota Kowal pertama yang dikirim untuk menempuh pendidikan di Royal Australian Naval Staff Course di Sydney, Australia. Tak berhenti di situ, ia juga terbang ke Amerika Serikat untuk meraih gelar Master di Tulane University, New Orleans. Keberhasilannya menembus kampus-kampus top dunia membuktikan bahwa putri daerah dari Sulawesi mampu bersaing di level internasional.

 

Bintang Dua yang Memecahkan Rekor ASEAN

Puncak kariernya yang paling fenomenal terjadi pada Juni 2013. Saat ditugaskan di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) sebagai Staf Ahli Menteri, pangkatnya naik menjadi Laksamana Muda (Bintang Dua).

 

Momen ini bukan hanya kemenangan bagi TNI AL, tetapi juga sejarah bagi kawasan Asia Tenggara. Christina resmi dinobatkan sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Jenderal Bintang Dua di Angkatan Laut se-ASEAN. Sebuah pencapaian yang membuat dunia internasional terpukau pada kesetaraan gender di militer Indonesia.

 

Warisan Suci di Buntu Burake

Meski sudah menyandang pangkat tinggi dan berkeliling dunia, Christina tidak pernah melupakan akarnya. Ia adalah sosok religius yang menjadi bagian penting dalam pembangunan Patung Yesus Buntu Burake di Tana Toraja.

 

Berkat kontribusinya, kini Toraja memiliki salah satu patung Yesus tertinggi di dunia, yang berdiri megah di atas bukit, melambangkan kasih dan perlindungan bagi tanah kelahirannya.

 

Penghormatan Terakhir: Antara Salvo Militer dan Tebing Tinggi

Christina berpulang pada 31 Juli 2016, namun perpisahannya begitu ikonik sehingga viral di media sosial. Sesuai tradisi agung Toraja, jasad sang Laksamana tidak dimakamkan di dalam tanah.

 

Dalam sebuah upacara militer yang sakral, jenazahnya diarak dan ditempatkan di rongga batu tebing setinggi 30 meter. Suara tembakan salvo militer bersahut-sahutan dengan lantunan doa adat, menciptakan pemandangan yang menggetarkan jiwa. Sang Jenderal kembali ke pangkuan alam dengan cara yang paling terhormat—dekat dengan langit, setinggi prestasi yang telah ia raih semasa hidup. (Wikipedia)

 

#ChristinaMariaRantetana #LaksdaChristina #TorajaPride #SrikandiLaut #TNIAL #JenderalWanita #ASEANFirst #BuntuBurake #InspirasiIndonesia

 

{Redaksi-BM}