Mengenal Ustaz Jazir ASP: Sang Pejuang yang Mengajarkan Bahwa Masjid Megah Tak Boleh Biarkan Tetangganya Kelaparan

Nasional14 Dilihat

Jakarta, Beritametropolitan.id – Senin, 22 Desember 2025, menjadi hari kelabu bagi dunia dakwah tanah air. Kabar duka tersiar dari sudut selatan Yogyakarta: Ustaz Muhammad Jazir ASP, sang maestro manajemen masjid, telah berpulang ke hadirat Illahi.

 

Namun, kepergiannya bukan sekadar meninggalkan nama. Beliau meninggalkan sebuah filosofi besar yang kini menjadi standar baru bagi ribuan masjid di Indonesia: Bahwa fungsi masjid tak hanya berhenti pada kubah yang megah atau menara yang menjulang, melainkan pada perut jamaah yang kenyang.

 

Salah satu ucapan Ustaz Jazir yang paling membekas di hati umat adalah kritiknya terhadap masjid-masjid yang bangga menyimpan saldo infak hingga ratusan juta rupiah, sementara di sekitar masjid tersebut masih ada warga yang kesulitan membeli beras.

 

“Tidak mengajak memberi makan orang miskin itu mendustakan agama. Masjidnya bagus, ada tetangga tidak punya beras, tidak peduli. Itu bukan masjid, itu candi,” ungkapnya tegas dalam sebuah kesempatan.

 

Bagi beliau, masjid harus menjadi energi sosial. Prinsip ini diwujudkan melalui konsep “Saldo Nol Rupiah”. Di bawah kepemimpinannya, Masjid Jogokariyan tidak membiarkan uang umat mengendap tak berguna di rekening bank. Uang tersebut langsung diputar untuk melayani jamaah, mulai dari jaminan makan, layanan kesehatan, hingga beasiswa pendidikan.

 

Inovasi dari Akar Rumput: ATM Beras hingga Pemberdayaan Ekonomi

Lahir dan besar di lingkungan Masjid Jogokariyan, Ustaz Jazir memahami betul nadi kehidupan warganya. Ia bukan tipe ulama yang hanya duduk di balik meja. Ia adalah penggerak.

 

Beberapa terobosan legendaris yang beliau inisiasi antara lain:

 

ATM Beras: Solusi bermartabat bagi kaum duafa untuk mendapatkan kebutuhan pokok secara gratis tanpa harus mengantre panjang.

 

Sawah Wakaf: Membeli lahan pertanian yang hasilnya digunakan sepenuhnya untuk menyubsidi kebutuhan pangan jamaah.

 

Unit Usaha Jamaah: Mulai dari penginapan (Hotel Jogokariyan), produksi peci batik, hingga katering yang semuanya dikelola oleh warga sekitar.

 

Hasilnya? Masjid Jogokariyan menjelma menjadi pusat peradaban. Masjid ini berhasil menghapus stigma bahwa masjid hanya ramai saat salat Jumat, namun sunyi di hari-hari lainnya.

 

Kecerdasan Ustaz Jazir juga terlihat dari caranya mengelola organisasi. Ia menempuh pendidikan Hukum di UII dan Tarbiyah di IAIN Sunan Kalijaga, yang membuatnya paham pentingnya sistem. Pada tahun 1999, ia mendobrak tradisi dengan menggelar pemilihan takmir secara terbuka—sebuah langkah demokratis yang saat itu sangat jarang ditemukan di lingkungan masjid kampung.

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, pun menyebut almarhum sebagai kader istimewa. “Beliau adalah teladan dalam menggerakkan dakwah akar rumput. Warisan pemikiran dan semangat pengabdiannya akan terus hidup,” ujar Haedar.

 

Ustaz Muhammad Jazir ASP kini telah tiada. Namun, setiap butir beras yang keluar dari mesin ATM Beras, setiap senyum pedagang di Pasar Sore Ramadan Jogokariyan, dan setiap doa yang terucap dari kaum duafa yang terbantu, akan menjadi saksi bisu atas perjuangannya.

 

Beliau telah menunaikan tugasnya: Mengembalikan masjid ke fungsi asalnya, yakni sebagai pelindung bagi mereka yang lemah dan penuntun bagi mereka yang mencari jalan Tuhan.

 

Selamat jalan, Sang Pejuang Saldo Nol. Selamat beristirahat di sisi-Nya.

 

#MengenangUstazJazir #JogokariyanBerduka #MasjidJogokariyan #SaldoNol #PejuangUmat #ATMberas #TokohInspiratif #JogjaBerduka #ManajemenMasjid