Jakarta, Beritametropolitan.id – Di panggung politik nasional, nama Habib Nabiel Al-Musawa pernah tercatat sebagai salah satu legislator vokal di Senayan. Namun, garis takdir membawanya kembali ke jalan yang jauh lebih sunyi dari riuh rendah kekuasaan, namun sangat riuh dengan gema selawat. Beliau memilih menanggalkan jubah politiknya demi melanjutkan tongkat estafet dakwah sang adik, almarhum Habib Munzir Al-Musawa.
Langkah besar ini membuktikan bahwa bagi seorang Habib Nabiel, pengabdian terbaik bukanlah tentang kursi jabatan, melainkan tentang menjaga warisan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.
Darah Kritis dan Akar Perjuangan
Lahir pada 5 Mei 1967, Habib Nabiel tumbuh dalam lingkungan yang sangat menghargai dialektika dan perjuangan. Ayahnya, Fuad Al-Musawa, adalah tokoh Banser NU sekaligus akademisi yang mendidiknya untuk peka terhadap persoalan negara sejak dini.
Latar belakang ini membuatnya sangat matang dalam berorganisasi. Sejak masa kuliah di HMI hingga terjun ke partai politik, Habib Nabiel dikenal sebagai sosok yang sangat peduli pada kaderisasi dan kesejahteraan rakyat kecil. Puncaknya, beliau dipercaya menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014.
Titik Balik: Panggilan Dakwah dari Majelis Rasulullah
Meninggalnya sang adik, Habib Munzir Al-Musawa, pada tahun 2013 menjadi duka mendalam bagi jutaan jemaah Majelis Rasulullah SAW. Di tengah duka tersebut, muncul kebutuhan akan sosok pemimpin yang mampu menjaga stabilitas dan marwah majelis selawat terbesar di Indonesia tersebut.
Habib Nabiel mengambil keputusan yang jarang berani diambil oleh banyak orang: pensiun dari dunia politik praktis. Beliau memilih pulang ke asal, kembali ke pangkuan umat sebagai sesepuh Majelis Rasulullah Pusat Indonesia. Baginya, melayani jemaah yang merindukan sosok Habib Munzir adalah amanah keluarga yang jauh lebih mulia daripada sekadar mengejar jabatan di periode berikutnya.
Syiar Tanpa Batas: Dari Senayan ke Seluruh Penjuru Dunia
Setelah melepas statusnya sebagai politisi, jangkauan dakwah Habib Nabiel justru semakin meluas. Beliau tidak hanya aktif membimbing jemaah di Monas atau masjid-masjid besar di Jakarta, tapi juga merambah kancah internasional.
Dakwah 11 Negara Bagian: Beliau pernah berkeliling Amerika Serikat untuk menyampaikan pesan Islam yang damai.
Lintas Benua: Diundang berdakwah ke Jepang, Australia, Jerman, Turki, hingga Yaman.
Layar Kaca: Menjadi rujukan umat melalui acara-acara religi seperti Damai Indonesiaku dan Islam itu Indah.
Sosok Teduh di Rabithah Alawiyyah dan MUI
Kini, selain fokus di Majelis Rasulullah, Habib Nabiel juga aktif memberikan sumbangsih pemikiran di Rabithah Alawiyyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pengalamannya di dunia politik kini ia manfaatkan untuk menjembatani antara kepentingan umat dan kebijakan publik secara lebih bijaksana.
Beliau membuktikan bahwa untuk memperbaiki bangsa, seseorang bisa berjuang lewat kursi parlemen, namun untuk memperbaiki hati manusia, seseorang harus berjuang lewat jalan dakwah yang penuh cinta. (Wikipedia)
#HabibNabielAlMusawa #MajelisRasulullah #HabibMunzir #KisahInspiratif #DakwahIslam #SesepuhMajelis #HidayahDanPerjuangan
{Redaksi-BM}
