SURABAYA, Beritametropolitan.id — Di tengah pusaran Revolusi yang menggelegak, ketika Republik muda diuji oleh api, baja, dan pengkhianatan kolonial, lahirlah nama-nama besar yang ditempa bukan oleh kenyamanan, melainkan oleh darah dan sumpah setia. Salah satu di antaranya adalah Letnan Kolonel Joop Warouw, putra Minahasa yang tak sekadar menginjak Tanah Jawa, tetapi menjaganya dengan jiwa dan raga.
Ia lahir di Surabaya, berakar dari Manado. Darah Sulawesi mengalir di nadinya, namun takdir menautkan langkahnya pada nasib Jawa. Joop Warouw adalah bukti hidup bahwa patriotisme tak pernah tunduk pada batas suku dan asal-usul. Republik adalah tanah airnya, dan medan juang adalah rumahnya.
Ditempa dalam disiplin keras pendidikan militer Jepang (PETA), ia termasuk perwira awal yang menyambut Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan dengan pidato, melainkan dengan senjata di tangan dan tekad membara.
November 1945, Surabaya menjelma neraka. Langit hitam oleh asap mesiu, tanah basah oleh darah para pejuang. Di sanalah Joop Warouw berdiri di garis terdepan, bukan sebagai penonton sejarah, melainkan penggeraknya.
Sebagai komandan laskar dan pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia memimpin langsung anak buahnya menghadapi pasukan Sekutu yang lengkap dengan artileri dan senjata modern. Namun satu hal tak dimiliki musuh, keberanian orang-orang yang bertempur demi kemerdekaan.
“Ia komandan lapangan sejati,” kenang seorang prajuritnya.
“Perintahnya tegas, suaranya mantap, dan ia selalu maju bersama kami, bukan bersembunyi di balik meja.”
Di bawah kepemimpinannya, perlawanan Surabaya bukan sekadar pertempuran, melainkan pernyataan kepada dunia: Republik Indonesia tidak akan tunduk.
Panglima Brawijaya: Amanat dari Republik Keberanian dan kecakapan taktisnya menggema hingga ke pucuk pimpinan tentara. Republik yang terkepung membutuhkan panglima yang telah teruji oleh api perang, dan nama Joop Warouw menjawab panggilan zaman.
Oktober 1948, sejarah kembali menorehkan tinta tebal. Letkol Joop Warouw resmi diangkat sebagai Panglima Divisi VII/Brawijaya, menggantikan Kolonel Soengkono. Ini bukan sekadar rotasi jabatan. Ini adalah amanat suci.
Divisi Brawijaya adalah tulang punggung kekuatan militer Republik di Jawa Timur sebagai benteng terakhir, jantung perlawanan, simbol keteguhan rakyat. Menyerahkan komando ini kepada Warouw berarti menyerahkan nasib Jawa Timur kepada seorang ksatria yang telah bersumpah setia hingga titik darah terakhir.
Di pundak perwira muda ini bertumpu harapan besar, mengonsolidasikan kekuatan, mengobarkan perang gerilya, dan menjadikan setiap jengkal tanah Jawa Timur neraka abadi bagi kolonialisme Belanda.
Jika Surabaya adalah bab awal kepahlawanannya, maka Brawijaya adalah panggung besarnya.
Dan Joop Warouw menuliskan satu tujuan akhir KEMENANGAN MUTLAK REPUBLIK INDONESIA. MERDEKA! 🇮🇩🔥
{Redaksi-BM}
