KAPITALISME MEMBUAT KITA SIBUK BEKERJA, AGAR KITA LUPA MENANYAKAN UNTUK APA KITA HIDUP

Refleksi Hari Buruh Internasional tentang Makna Kerja dan Kehidupan

Berita27 Dilihat
banner 468x60

Jakarta, Beritametropolitan.id – “Kita bekerja, lalu lelah. Kita lelah, lalu lupa bertanya.” Kalimat sederhana ini seolah menjadi gambaran kehidupan banyak orang di tengah sistem ekonomi modern yang terus bergerak cepat, menuntut produktivitas tanpa henti.

 

banner 336x280

Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja dengan harapan memenuhi kebutuhan hidup, mengejar target, dan memastikan masa depan yang lebih baik. Namun di balik rutinitas yang berulang, sering kali ada satu pertanyaan mendasar yang terlupakan: untuk apa semua ini?

 

Pemikir filsafat sosial asal Prancis, André Gorz, pernah mengingatkan bahwa kapitalisme tidak hanya mengatur cara manusia bekerja, tetapi juga secara perlahan mengendalikan waktu, pikiran, dan tujuan hidup manusia. Dalam pandangannya, sistem membuat manusia terus sibuk bekerja—bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi hingga lupa memaknai hidup itu sendiri.

 

Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan modern. Banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja, menghadapi tekanan target, tuntutan ekonomi, hingga kompetisi tanpa akhir. Waktu bersama keluarga berkurang, ruang untuk refleksi menyempit, dan kebahagiaan sering kali diukur hanya dari pencapaian materi.

 

Momentum Hari Buruh Internasional International Workers’ Day menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh bukan hanya soal kenaikan upah, pengurangan jam kerja, atau perlindungan hak-hak pekerja. Lebih dari itu, Hari Buruh adalah ruang untuk mengingat kembali bahwa manusia bukan sekadar alat produksi.

 

– Buruh bukan mesin yang bekerja tanpa henti.

– Kerja bukan satu-satunya tujuan hidup.

– Dan kehidupan seharusnya memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar bertahan dari hari ke hari.

 

Di tengah kerasnya tuntutan hidup, penting bagi setiap individu untuk kembali bertanya: apakah pekerjaan yang dijalani benar-benar membawa makna, kebahagiaan, dan tujuan? Ataukah hanya menjadi siklus tanpa ujung yang menguras tenaga dan waktu?

 

Hari Buruh bukan hanya perayaan perjuangan kelas pekerja, tetapi juga momentum refleksi tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Sebab pada akhirnya, bekerja adalah bagian dari hidup—bukan seluruh hidup itu sendiri.

 

Semoga kita tidak hanya bekerja untuk hidup, tetapi juga memahami alasan mengapa kita bekerja, agar hidup yang dijalani memiliki makna, tujuan, dan nilai kemanusiaan yang utuh.

 

{Redaksi-BM}

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *