Jakarta, Beritametropolitan.id – Kisah Bung Karno mengembalikan Oetari kepada H.O.S. Tjokroaminoto sering kali diglorifikasi sebagai puncak “adab dan kehormatan.” Namun, mari kita jujur: apakah ini benar-benar tentang kesantunan, atau justru sebuah pengakuan tersirat bahwa pernikahan tersebut hanyalah sebuah transaksi politik yang gagal di ranah asmara?
PERSAUDARAAN ATAU PERNIKAHAN TANPA GAIRAH?
Narasi arus utama menyebut mereka “lebih kuat sebagai saudara seperjuangan.” Namun, coba pikirkan: pria mana yang menikahi putri gurunya hanya untuk memperlakukannya seperti adik selama bertahun-tahun? Bung Karno memilih untuk tidak menyentuh Oetari demi menjaga “kehormatan,” namun secara psikologis, bukankah itu bentuk pengabaian yang dingin? Mengembalikan seorang istri dalam kondisi “tetap terjaga” mungkin terlihat elegan, tapi itu adalah cara paling halus untuk mengatakan bahwa cinta romantis sama sekali tidak ada di sana.
Dikatakan bahwa Bung Karno menjunjung tinggi integritas karena menghargai Tjokroaminoto. Namun, apakah sebuah perpisahan bisa benar-benar disebut “elegan” jika sang wanita harus dikembalikan layaknya barang titipan karena sang suami merasa “lebih cocok jadi kakak”? Kita sering memuji sikap ksatria Bung Karno, namun kita jarang bertanya bagaimana perasaan Oetari yang harus menanggung beban status “janda suci” di tengah masyarakat yang kolot saat itu.
Kita diminta belajar tentang “kejujuran” dari kisah ini. Baiklah, mari kita jujur: Bung Karno memang berjiwa besar karena berani mengaku salah, namun jangan sampai kemuliaan hatinya mengaburkan fakta bahwa dalam hubungan ini, ada ego seorang pemimpin besar yang lebih mendahulukan visi politik daripada komitmen domestik.
Apakah kita benar-benar meneladani “adab” beliau, atau kita hanya menggunakan kisah ini untuk membenarkan cara-cara kita meninggalkan seseorang dengan alasan “demi kebaikan bersama”? Menghormati jasa orang lain adalah wajib, namun menjadikan pernikahan sebagai eksperimen moral adalah diskusi yang berbeda.
