MUHAMMADIYAH SECARA TEGAS MENOLAK GELAR HABIB

Berita21 Dilihat
banner 468x60

Jakarta, Beritametropolitan.id – Di tengah hiruk-pikuk pemujaan gelar di Indonesia, sebuah fakta mengejutkan menyeruak ke permukaan: Muhammadiyah, organisasi Islam yang kini dinobatkan sebagai entitas keagamaan terkaya ke-4 di dunia dengan aset menembus Rp454 triliun hingga Rp470 triliun, secara tegas menolak mengakui hegemoni gelar “Habib”.

 

banner 336x280

Bayangkan, sebuah imperium ekonomi yang kekayaannya melampaui gabungan “Sembilan Naga” ekonomi Indonesia ini memilih untuk tidak percaya pada klaim nasab yang selama ini dianggap tak tersentuh.

 

*”Mengapa organisasi sebesar ini begitu berani melawan arus?”*

 

Jawabannya bukan sekadar soal beda pendapat, melainkan benturan antara rasionalitas modern dengan apa yang mereka sebut sebagai “takhayul” dan “perbudakan spiritual”.

 

Bagi Muhammadiyah, iman harus berjalan beriringan dengan akal sehat. Ketidakpercayaan mereka terhadap klaim nasab Ba’alawi (Habaib di Indonesia) kini diperkuat oleh data sains dan sejarah yang kontroversial.

Riset K.H. Imaduddin Utsman membongkar adanya “lubang hitam” sejarah selama 500 tahunโ€”di mana nama leluhur para habib ini tidak tercatat dalam kitab nasab primer mana pun yang sezaman.

 

Lebih sensasional lagi, hasil tes DNA dari para peneliti BRIN menunjukkan bahwa kelompok yang mengklaim keturunan Nabi di Hadramaut ini justru memiliki Haplogroup Gโ€”yang secara genetik lebih identik dengan bangsa Yahudi ketimbang klan Bani Hasyim (Arab Adnani) yang seharusnya memiliki Haplogroup J1.

 

Fakta sains ini menjadi peluru bagi Muhammadiyah untuk menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak bisa “dicangkok” melalui klaim silsilah yang meragukan.

 

Kekayaan ratusan triliun rupiah milik Muhammadiyah tidak dibangun dengan cara “ngalap berkah” atau berebut air bekas cuci kaki tokoh tertentu. Muhammadiyah memandang praktik-praktik tersebut sebagai TBC (Takhayul, Bidโ€™ah, dan Churafat) yang merusak aqidah. Di lingkungan Muhammadiyah, tidak ada ruang bagi orang suci yang dianggap kebal dosa atau “jadzdzab” yang berperilaku aneh.

 

“Di Muhammadiyah tidak ada habib, tidak ada perilaku keagamaan aneh lainnya. Energi kita tetap fit untuk berjuang untuk umat, bukan habis untuk mengkultuskan individu,” tegas salah satu cendekiawan mereka. Bagi organisasi raksasa ini, sangat aneh jika di Indonesia gelar “Habib” begitu diagungkan, padahal di tanah kelahiran Nabi sendiri, Arab Saudi, gelar tersebut sama sekali tidak dikenal dan tidak digunakan.

 

Sentimen ini semakin memuncak seiring banyaknya kasus hukum dan perilaku kontroversial yang melibatkan oknum pemakai gelar “Habib”. Mulai dari ujaran kebencian, intimidasi, hingga kasus kriminal seperti penganiayaan yang dilakukan Bahar bin Smith atau kasus-kasus hukum Rizieq Shihab. Muhammadiyah memandang bahwa jika seseorang benar-benar memiliki darah Nabi, seharusnya ia menjadi teladan moral yang lemah lembut, bukan malah memicu kerusuhan dan merasa di atas hukum.

 

Dengan aset yang mencapai USD 27โ€“28 miliar, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa kedaulatan umat bisa dicapai melalui sistem, pendidikan, dan kerja nyata, bukan dengan menyembah garis keturunan. Mereka berdiri tegak sebagai antitesis dari “Habibisme” di Indonesia: sebuah raksasa yang tidak butuh “berkah” dari manusia, karena mereka hanya tunduk pada Tuhan dan ilmu pengetahuan.

 

{Redaksi-BM}

banner 336x280

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *