Jakarta, Beritametropolitan.id – Di tengah slogan pemerintah yang getol bicara “efisiensi anggaran” dan “pemangkasan birokrasi”, muncul seorang pahlawan modern yang benar-benar memahami arti “multitasking” level dewa. Namanya Angga Raka Prabowo, sosok yang sukses memborong tiga jabatan sekaligus sambil nyaris mengantongi gaji Rp1 miliar per bulan. Wow, ini baru namanya efisiensi—efisiensi untuk satu orang saja!
Bayangkan: Wakil Menteri Komunikasi dan Digital regulator yang mengawasi dunia digital Indonesia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah juru bicara utama pemerintahan, pengelola narasi publik kepresidenan.
Komisaris Utama PT Telkom Indonesia pengawas tertinggi BUMN raksasa yang diawasi oleh… regulator yang sama, yaitu dirinya sendiri.
Ini seperti jadi wasit, pemain, dan pemilik klub sepak bola sekaligus tapi versi negara. Konflik kepentingan? Benturan aturan? Etika jabatan? Ah, itu urusan orang biasa. Di level “hebat” seperti ini, semuanya bisa diatur dengan nyaman. Konstitusi dan undang-undang? Hanya pedoman opsional, seperti aturan lalu lintas di Jakarta—boleh dilanggar asal punya koneksi kuat.
Menurut estimasi para ahli matematika media sosial (yang jarang salah hitung kalau soal gaji pejabat), total take-home pay Angga bisa mencapai Rp917 juta per bulan. Itu artinya:
* Satu bulan kerjanya setara gaji 4.500–5.000 guru honorer se-Indonesia.
* Cukup untuk beli apartemen mewah di Jakarta Selatan setiap 2–3 bulan.
* Atau, kalau ditabung setahun, bisa bantu lunasi utang negara… tapi ya sudahlah, lebih enak buat pribadi dulu.
Yang paling mengagumkan, Angga melakukannya dengan santai. Di depan kamera, dia bicara soal transformasi digital, komunikasi publik yang transparan, dan efisiensi BUMN. Di belakang layar? Dia sibuk menandatangani tiga set gaji sekaligus. Multitasking sejati! Mungkin dia punya clone, atau memang punya 48 jam dalam sehari—rahasia orang hebat.
Ini bukti nyata bahwa di Indonesia, kalau kamu loyal, dekat dengan pusat kekuasaan, dan punya track record “setia meski kalah pilpres berkali-kali”, maka langit adalah batasnya. Bukan langit prestasi, tapi langit gaji dan jabatan. Undang-undang tentang larangan rangkap jabatan? Itu kan cuma teks mati di kertas—bisa diinterpretasikan ulang dengan kreatif. Etika? Itu buat yang gajinya di bawah Rp50 juta, bukan buat elite.
Jadi, mari kita bertepuk tangan untuk Angga Raka Prabowo, contoh sempurna “orang hebat” Indonesia modern: satu nama, tiga kursi, gaji nyaris satu miliar, dan melanggar aturan dengan penuh kenyamanan. Kalau ada yang protes, ya anggap saja iri. Karena di negeri ini, yang namanya “merangkap” bukan pelanggaran—itu prestasi. Selamat menikmati kursi-kursi empuknya, Pak Angga. Semoga tetap sehat, biar bisa nambah jabatan keempat nanti!
{Redaksi-BM}


















