Topeng Kekuasaan: Seni Gelap “Menyelamatkan Muka” dalam Panggung Politik

Berita, Nasional38 Dilihat

Jakarta, Beritametropolitan – Pernahkah Anda memperhatikan momen di televisi ketika seorang politisi terpojok? Fakta sudah terpampang, data menunjukkan kegagalan, dan logika menuntut permintaan maaf. Namun, alih-alih menunduk, mereka justru menegakkan kepala, memutar narasi, dan tersenyum tipis.

 

Saat itu, Anda sedang tidak menyaksikan sekadar keras kepala. Anda sedang menyaksikan sebuah tarian kematian dan kehidupan dalam politik yang disebut: Menyelamatkan Muka.

Dalam dunia kita sehari-hari, “malu” adalah perasaan tidak nyaman. Namun dalam kalkulasi dingin kekuasaan, “malu” adalah mata uang yang bangkrut. Kehilangan muka bukan sekadar soal perasaan; itu adalah hilangnya legitimasi.

 

Mengapa “Wajah” Lebih Mahal dari Emas?

Politik, pada intinya, adalah teater persepsi. Seorang pemimpin tidak memimpin hanya dengan tanda tangan di atas kertas, tetapi dengan ilusi kompetensi.

 

Ketika seorang tokoh politik melakukan kesalahan fatal—baik itu skandal korupsi, kebijakan ekonomi yang hancur, atau diplomasi yang gagal—mereka dihadapkan pada dua pilihan:

* Mengaku salah: Yang sering kali diartikan sebagai kelemahan oleh lawan dan “darah segar” bagi media.

* Menyelamatkan muka: Membangun realitas alternatif di mana kesalahan tersebut bukanlah kesalahan, melainkan “tantangan tak terduga” atau “sabotase pihak luar”.

 

“Dalam politik, kebenaran adalah variabel yang bisa dinegosiasikan. Namun, persepsi kekuatan adalah harga mati.”

 

Anatomi Sebuah Penyelamatan Bagaimana proses hipnotis massal ini terjadi? Mekanismenya sering kali halus namun mematikan. Mari kita bedah strategi yang sering dimainkan di depan mata kita:

 

Eufemisme yang Membius:

Kegagalan tidak pernah disebut “kegagalan”. Kemunduran ekonomi disebut “koreksi pasar”. Penarikan pasukan karena kalah perang disebut “realokasi strategis”. Bahasa dimanipulasi untuk melunakkan benturan kenyataan, membuat publik merasa bahwa segala sesuatu masih terkendali.

Mencari Kambing Hitam (Scapegoating):

Untuk menyelamatkan muka sang Raja, seringkali pion harus dikorbankan. Kita sering melihat bawahan dipecat atau disalahkan atas keputusan yang sebenarnya datang dari atas. Ini adalah ritual pembersihan dosa; wajah pemimpin tetap bersih karena darah tertumpah di tangan orang lain.

 

Eskalasi Komitmen (Sunk Cost Fallacy):

Ini adalah bentuk penyelamatan muka yang paling berbahaya. Seorang politisi mungkin tahu kebijakannya gagal. Namun, menghentikannya berarti mengakui kesalahan. Maka, mereka justru melipatgandakan anggaran dan usaha pada lubang yang sama, hanya untuk menunda pengakuan kekalahan.

 

Harga yang Harus Dibayar Rakyat

Sisi paling kelam dari upaya menyelamatkan muka bukanlah kebohongan itu sendiri, melainkan dampaknya pada kehidupan nyata.

Sejarah mencatat perang yang diperpanjang bertahun-tahun—mengorbankan ribuan nyawa prajurit dan sipil—hanya karena para pemimpin di kedua belah pihak tidak dapat menemukan cara untuk mundur tanpa terlihat “kalah” di mata konstituen mereka. Kebijakan ekonomi yang menyengsarakan rakyat sering kali dipertahankan mati-matian hanya agar partai penguasa tidak terlihat tidak kompeten menjelang pemilu.

 

Menembus Ilusi: Sebagai penonton di panggung raksasa ini, kita memiliki satu kekuatan: Kesadaran.

 

Lain kali Anda melihat seorang tokoh publik bersilat lidah di tengah krisis, jangan hanya marah. Amati tekniknya. Lihatlah bagaimana mereka sedang mati-matian menambal retakan pada topeng mereka.

 

Memahami konsep “menyelamatkan muka” secara politis membebaskan kita dari hipnotis narasi. Kita berhenti bertanya “Mengapa dia berbohong?” dan mulai mengerti “Apa yang sedang dia lindungi?”.

Karena pada akhirnya, dalam politik, wajah yang mereka selamatkan sering kali dibayar dengan masa depan yang kita miliki.

{Redaksi-BM}