JEJAK SUNYI SEORANG PERWIRA YANG TERSESAT OLEH ZAMAN

Berita, Nasional45 Dilihat

Kalimantan Barat, Beritametropolitan.id – Brigadir Jenderal Supardjo, berkumis tebal, sorot mata keras seorang prajurit tempur, pernah berdiri gagah sebagai komandan di garis depan Kalimantan. Berbasis di Menggala, Kalimantan Barat, ia memimpin Komando Tempur Keempat KOSTRAD, menghadapi pasukan gabungan Inggris, Australia, dan Malaysia. Di rimba dan rawa, ia ditempa sebagai perwira lapangan sejati, terbiasa dengan dentuman senjata dan keputusan hidup-mati.

 

Namun sejarah kerap berbelok ke arah yang paling gelap.  Menjelang akhir September 1965, Supardjo terbang ke Jakarta. Bukan lagi sebagai komandan medan perang, melainkan sebagai bagian dari pusaran kekuasaan yang penuh intrik. Ia ikut memimpin Gerakan 30 September, sebuah langkah yang kelak menjadi titik balik paling pahit dalam hidupnya.

Pada 1 Oktober, ia melapor ke Presiden Soekarno di Halim, menyampaikan bahwa para jenderal Angkatan Darat telah “diamankan”. Tetapi yang ia harapkan sebagai dukungan justru berubah menjadi perintah keras. Bung Karno dengan tegas memerintahkan agar gerakan itu dihentikan.

 

Supardjo tersungkur secara batin. Ia sadar bahwa permainan telah berakhir, dan ia berada di pihak yang kalah. Sejak saat itu, ia menghilang, bukan sebagai jenderal, melainkan sebagai buronan. Dari satu sudut gelap ke sudut lain di sekitar Jakarta, ia bersembunyi, hidup dalam bayang-bayang, diburu oleh waktu dan rasa bersalah.

 

Baru pada Januari 1967, dua tahun setelah peristiwa itu, langkah pelariannya terhenti. Tim Kalong Kodam Jaya menangkapnya. Ia ditahan, diadili, dan dihadapkan pada vonis yang tak bisa ditawar. Atas peran kuncinya dalam kudeta yang gagal, mantan perwira Resimen Siliwangi itu dijatuhi hukuman mati.

 

Tak ada lagi pangkat. Tak ada lagi pasukan. Yang tersisa hanya seorang manusia menunggu ajal.

 

Mei 1970, malam terakhirnya tiba. Di balik jeruji besi, menjelang eksekusi, Brigjen Supardjo mengumandangkan adzan. Suaranya lirih namun jernih, menggema di lorong penjara, menembus dinding-dinding dingin. Para penghuni sel terenyuh, seolah menyaksikan bukan kematian seorang jenderal, melainkan kepulangan seorang hamba yang telah kalah oleh sejarah.

Sebuah akhir tragis bagi seorang prajurit yang pernah berjaya, namun terseret arus zaman hingga namanya tercatat bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai bayang-bayang kelam dalam lembar sejarah bangsa.

{Redaksi-BM}