Pemerintah Kejar Penerimaan Negara Lebih dari Rp600 Triliun dalam Dua Bulan, Belanja APBN Tersisa Rp990 Triliun

Pemerintah menyelesaikan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026. Dalam dua bulan terakhir menjelang penutupan tahun anggaran, pemerintah masih harus mengejar penerimaan negara lebih dari Rp600 triliun

Berita Jakarta34 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, Beritametropolitan.id – Pemerintah menghadapi pekerjaan besar dalam menyelesaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Dalam dua bulan terakhir menjelang penutupan tahun anggaran, pemerintah masih harus mengejar penerimaan negara lebih dari Rp600 triliun, sementara belanja negara yang harus direalisasikan mencapai sekitar Rp990 triliun.

 

banner 336x280

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara setelah melaporkan perkembangan pelaksanaan APBN hingga akhir Oktober 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

 

Suahasil menjelaskan bahwa secara umum pelaksanaan pendapatan dan belanja negara hingga Oktober masih berada dalam jalur yang sesuai dengan target pemerintah.

 

Namun, ia mengakui masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan selama November dan Desember 2026.

 

“Untuk pendapatan negara kami harus mengumpulkan lagi November-Desember ini sekitar Rp600 triliun lebih, dan untuk belanja negara masih sekitar Rp990 triliun akan dibelanjakan,” ujar Suahasil.

 

“Presiden Minta Belanja Negara Tetap Efisien”

Di tengah upaya mempercepat realisasi anggaran menjelang akhir tahun, Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh kementerian dan lembaga tetap mengedepankan prinsip efisiensi serta tata kelola keuangan negara yang baik.

 

Suahasil mengatakan, percepatan belanja pemerintah pada penghujung tahun merupakan pola yang lazim terjadi. Meski demikian, percepatan tersebut tidak boleh mengabaikan kualitas penggunaan anggaran.

 

Pemerintah mempersilakan kementerian dan lembaga mempercepat pelaksanaan program, sepanjang pengeluaran tetap sesuai perencanaan dan menghasilkan target keluaran atau output yang telah ditetapkan.

 

Menurut Suahasil, pemerintah harus mampu menjaga keseimbangan antara peningkatan penerimaan negara dan pengendalian belanja.

 

“Pendapatannya tetap kita cari, pendapatan negara, tapi belanjanya terus kita efisiensikan,” tegasnya.

 

“Target APBN 2026 Menjadi Perhatian”

Berdasarkan postur awal APBN 2026, pemerintah menetapkan target pendapatan negara sebesar Rp3.153,6 triliun.

 

Sementara itu, belanja negara direncanakan mencapai Rp3.842,7 triliun, dengan defisit anggaran sebesar Rp686,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

 

Dengan masih besarnya kebutuhan penerimaan dan belanja pada dua bulan terakhir, pemerintah perlu memastikan pelaksanaan anggaran berjalan sesuai prioritas pembangunan nasional.

 

Percepatan realisasi anggaran juga menjadi perhatian agar program pemerintah yang telah direncanakan dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

 

“Pengawasan Penggunaan Anggaran Diperlukan”

Besarnya anggaran yang harus direalisasikan menjelang akhir tahun menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.

 

Efisiensi belanja tidak hanya berkaitan dengan penghematan anggaran, tetapi juga memastikan setiap rupiah uang negara digunakan secara tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Publik juga perlu mendapatkan informasi yang terbuka mengenai perkembangan penerimaan negara, realisasi belanja, serta pencapaian program pemerintah.

 

Dengan demikian, percepatan penyerapan APBN tidak sekadar mengejar angka realisasi, melainkan harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

 

Pemerintah kini memiliki waktu dua bulan untuk mengejar target penerimaan sekaligus menyelesaikan program belanja negara tahun anggaran 2026.

{Team Redaksi-BM}

Sumber: CNBC Indonesia

Beritametropolitan.id

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *